Berita Organisasi
Menjaga Marwah Toga Sinaga: Ajakan Persatuan Menjelang Mubes PPTSB
Menjelang pelaksanaan Mubes PPTSB, marilah kita semua, khususnya para tokoh Sinaga yang selama ini menjadi panutan dan dihormati, bersama-sama menjaga persatuan, kehormatan, dan marwah PPTSB.
Mubes hendaknya menjadi ruang untuk bermusyawarah, menyatukan hati dan pikiran, serta menentukan arah terbaik bagi masa depan PPTSB, bukan menjadi arena untuk mempertarungkan kepentingan pribadi, kelompok, apalagi kepentingan politik.
Kami berharap para tokoh tidak terlalu jauh “cawe-cawe” dalam proses Mubes, terlebih jika hal tersebut dapat memengaruhi independensi peserta dan menimbulkan perpecahan. Sikap seorang tokoh seharusnya menjadi penyejuk, pemersatu, dan pemberi keteladanan, bukan justru menjadi sumber tarik-menarik kepentingan.
Perbedaan pilihan dan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut mengorbankan persaudaraan yang telah diwariskan oleh para leluhur kita.
Jika kita dipercaya dan dihormati sebagai tokoh Sinaga, maka marilah kita benar-benar menjaga marwah Toga Sinaga. Jangan menjadikan PPTSB sebagai alat untuk memenuhi ambisi pribadi atau kepentingan kekuasaan. PPTSB adalah wadah persaudaraan, bukan kendaraan bagi kepentingan siapa pun.
Mari bersatu hati, menyingkirkan ego pribadi, meredam kepentingan kelompok, dan menjauhkan PPTSB dari kepentingan politik praktis.
Karena yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukanlah siapa yang menang atau siapa yang berkuasa, tetapi seberapa kuat kita menjaga persaudaraan dan membangun PPTSB menjadi organisasi yang mandiri, solid, bermartabat, dan maju.
Mubes hendaknya menjadi ruang untuk bermusyawarah, menyatukan hati dan pikiran, serta menentukan arah terbaik bagi masa depan PPTSB, bukan menjadi arena untuk mempertarungkan kepentingan pribadi, kelompok, apalagi kepentingan politik.
Kami berharap para tokoh tidak terlalu jauh “cawe-cawe” dalam proses Mubes, terlebih jika hal tersebut dapat memengaruhi independensi peserta dan menimbulkan perpecahan. Sikap seorang tokoh seharusnya menjadi penyejuk, pemersatu, dan pemberi keteladanan, bukan justru menjadi sumber tarik-menarik kepentingan.
Perbedaan pilihan dan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut mengorbankan persaudaraan yang telah diwariskan oleh para leluhur kita.
Jika kita dipercaya dan dihormati sebagai tokoh Sinaga, maka marilah kita benar-benar menjaga marwah Toga Sinaga. Jangan menjadikan PPTSB sebagai alat untuk memenuhi ambisi pribadi atau kepentingan kekuasaan. PPTSB adalah wadah persaudaraan, bukan kendaraan bagi kepentingan siapa pun.
Mari bersatu hati, menyingkirkan ego pribadi, meredam kepentingan kelompok, dan menjauhkan PPTSB dari kepentingan politik praktis.
Karena yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukanlah siapa yang menang atau siapa yang berkuasa, tetapi seberapa kuat kita menjaga persaudaraan dan membangun PPTSB menjadi organisasi yang mandiri, solid, bermartabat, dan maju.